Ini Budayaku, Jangan Ngaku-ngaku ! ! !
Hey anda yang suka mengklaim,!! sampe kpan mau ngaku-ngaku itu budaya anda,??
Apa ndak malu sama kita???
"Tidak bisa memiliki, hanya bisa mencontoh" salah satu ungkapan untuk negara asing yang sudah mengklaim budaya Indonesia.
Mengapa budaya kita sampai bisa di klaim oleh negara tetangga???
Berbicara soal pertanyaan di atas, banyak faktor yang menjadi penyebab mudahnya pengklaiman budaya kita oleh negara asing. Memang, kerap kali keberagaman
budaya Indonesia mengundang
perhatian dari negara-negara lain untuk ingin tahu lebih dalam tentang
keunikan-keunikan budaya yang kita miliki. Indonesia terkenal sebagai
bangsa yang luhur. Memiliki keragaman budaya yang tersebar di
pelosok-pelosok nusantara. Dari kesenian, adat-istiadat hingga makanan
melekat mewarnai keragaman bangsa ini. Tidak heran jika begitu banyaknya
budaya yang kita miliki, membuat kita tidak mengetahui apa saja
budaya yang ada Indonesia. Bahkan kita sendiri pun sebagai generasi muda
terkadang melupakan budaya daerah kita. Ironis sekali, orang
Indonesia tetapi tidak mengenal ciri khas bangsanya sendiri. Lantas apa saja yang menyebabkan terjadinya
pengklaiman budaya oleh negara-negara lain? Adapun faktor-faktor
penyebabnya adalah sebagai berikut :
Ø Faktor pengklaiman karena globalisasi.
Era
globalisasi, tentu akan berpengaruh pada dinamika budaya di setiap
negara. Khususnya di Indonesia, hal ini bisa dirasakan dan sangat
menonjol saat ini. Begitu bebas budaya yang masuk dari berbagai arus
kehidupan. Pribadi yang ramah-tamah juga sangat mendukung masuknya
berbagai budaya tersebut. Ditambah lagi generasi muda kita yang terkesan
bosan dengan budaya yang mereka anggap kuno. Namun, masuknya budaya
dari luar justru kerap berimbas buruk bagi bangsa ini. Misalnya budaya
berpakaian, gaya hidup (life style), segi iptek, maupun adat-istiadat.
Kesemua itu berdampak sangat buruk dan dapat dengan mudah dapat
menggeser budaya asli yang ada di Indonesia.
Gaya hidup kita semakin menjurus ke arah
barat yang individual dan liberal. Budaya gotong-royong pun semakin
memudar. Dari segi iptek, sebagian besar juga berdampak buruk bagi kita.
Yakni penyalahgunaan teknologi kerap kali terjadi. Kemudian, belum ada
filterisasi budaya yang masuk. Begitu mudah budaya masuk tanpa ada
penyaringan kesesuaian dengan budaya asli kita. Akibatnya kita seperti
berjalan mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern. Tetapi
sayangnya budaya luhur yang dulu melekat dalam diri, perlahan semakin
menghilang. Parahnya, budaya daerah yang ada justru kita abaikan.
Dampak yang paling buruk terjadi ialah hilangnya budaya-budaya yang
menjadi ciri khas di beberapa daerah. Bahkan terjadi pencurian atau
sering kita dengar pengklaiman budaya nasional oleh negara lain. Sungguh
disayangkan hal itu bisa dialami bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini
negara tetangga kita mengklaim begitu banyak budaya dari Indonesia. Bisa
kita ambil contoh, batik, reog ponorogo, masakan rendang dari Sumatra
Barat, kuda lumping, lagu rasa sayange, alat musik angklung, gamelan
dari Jawa serta tari piring. Sampai yang terkini adalah tari pendet dari
Bali, dan masih banyak lagi. Ini semakin menunjukkan bahwa kita lemah
dalam menjaga jati diri dan mudah kecolongan oleh negara lain.
Ø Kesadaran generasi muda yang kurang akan pentingnya budaya.
Untuk mempertahankan budaya memang sangat dibutuhkan kesadaran yang
kuat. Tidak hanya mengakui tetapi harus ikut serta dalam pelestarian
budaya. Dari kesadaran itulah akan muncul upaya-upaya menjaga,
melindungi budaya asli daerah sehingga akan tetap utuh. Sehingga, tidak
mungkin akan diakui negara lain.
Ø Perpindahan penduduk menyebabkan budaya kita diakui oleh negara lain.
Saat ini banyak penduduk Indonesia yang bekerja di luar negeri. Bahkan
banyak pula yang telah menetap di sana menjadi warga negara tempat ia
tinggal. Perpindahan tersebut tidak menutup kemungkinan akan diikuti
perpindahan budaya. Budaya-budaya dari Indonesia pasti ada yang
diterapkan di negara lain tempat mereka bekerja. Inilah yang menyebabkan
keinginan negara lain untuk mengakui budaya Indonesia. Karena mereka
menganggap budaya itu sudah biasa mereka lihat di negaranya.
Ø Pemerintah kurang perhatian terhadap kekayaan budaya nasional.
Buktinya, salah satu kesenian dari Jawa Timur yaitu Reog Ponorogo
sempat menjadi perdebatan kepemilikan dengan pihak Malaysia. Padahal
dari namanya saja sudah jelas bahwa itu milik Indonesia. Sebenarnya hal
itu bisa disiasati dengan mendaftarkan hak cipta budaya. Supaya dunia
internasional mengakui atas kememilikan budaya Indonesia. Kemudian,
kurangnya sarana untuk menampilkan budaya asli Indonesia kepada
masyarakat luas. Ini bukan masalah yang kecil, melainkan masalah yang
menyangkut ciri khas bangsa kita. Harus segera diatasi, agar tidak ada
lagi budaya kita yang diambil pihak luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar